Jumat, 12 Juni 2026

Breaking News

  • Panitia HUT JMSI ke 6 Silaturahmi dengan UAS, Salah Satu Penerima JMSI Award   ●   
  • Wabup Syamsurizal Ingatkan Ancaman Serius Generasi Muda : HIV, Narkoba, dan Pergaulan Bebas    ●   
  • Plt Gubri SF Hariyanto Instruksikan Kadis PUPR Tingkatkan Pengawasan Infrastruktur di Lapangan   ●   
  • Buka OSIS Cup I SMPN 5 Kerinci Kanan, Bupati Afni Ajak Pelajar Isi Waktu dengan Kegiatan Positif   ●   
  • Dorong Penguatan Sinergi Daerah, Bupati Ahmad Yuzar Terima Audiensi IKM Kampar   ●   
Empat Pakar Kupas Tuntas Potensi, Tantangan Hingga Tata Niaga Kopi di Kebun Sawit 
Selasa 28 Oktober 2025, 17:13 WIB
👁75649

 

Bengkalis, berazamcom - Workshop Agroforestry Budidaya Tumpang Sari Kopi di Kebun Sawit yang digelar Yayasan Gambut bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP), menghadirkan empat narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Mereka mengupas potensi, tantangan, hingga tata niaga kopi liberika di lahan sawit bertempat di Aula Kantor Desa Temiang, Selasa (28/10/2025).

Meski berasal dari latar belakang berbeda, pandangan mereka berpadu dalam satu benang merah, bahwa tumpang sari kopi di kebun sawit bukan sekadar inovasi, melainkan strategi menuju kemandirian ekonomi petani.

Dr M Amrul Khoiri SP., M.P., C.APO, yang tampil sebagai pembicara pertama membahas soal Budidaya Tanaman Kopi Liberika. Mengapa Liberika? Karena jenis kopi ini yang bisa hidup di lahan Gambut.

Amrul menjelaskan cara budidaya kopi liberika mulai dari penyemaian, pembibitan sampai penanaman. Dan yang utama dalam hal Ini adalah pemilihan benih yang berkualitas, yakni yang bersertifikat. 

Pasca penanaman, pertumbuhan Kopi juga perlu diperhatikan. Mulai dari pemupukan, pemangkasan, dan panen. Jika pertumbuhan tanaman bagus, maka umur 3 tahun sudah berbuah.

"Langkah awal budidaya kopi ini sangat penting diperhatikan agar tanaman Kopi bisa tumbuh baik dan menghasilkan biji kopi yang maksimal," ucapnya.

Workshop dilanjutkan oleh Dosen Faperta UNRI, Puan Habibah SP., MP, yang mengupas masalah Potensi Penyakit Jamur dan Bakteri pada Kopi di Sistem Tumpang Sari dengan Sawit.

Berdasarkan penelitian, 50 - 70 persen, menurunnya produktivitas Kopi dikarenakan penyakit Jamur dan bakteri. Inilah yang menjadi tantangan utama petani adalah Penyakit dan perubahan mikroekosistem (lingkungan).

"Penyakit kopi disebabkan oleh Jamur, terdapat bercak kuning yang disebabkan jamur, dan menyebabkan mati perlahan-lahan. Selain itu juga disebabkan bakteri dimana warna cepat berubah," urainya.

Diakhir pemaparan, Puan menyampaikan solusi tepat mengatasi tanaman yang terkena jamur dan bakteri. Yaitu, Lakukan pemangkasan, lakukan sanitasi kebun, bakar daun yang terkena penyakit, lakukan pemupukan seimbang, dan gunakan alat panen dan gunting yang bersih.

"Harus dilakukan dengan disiplin memangkas bagian yang terinfeksi, membakarnya, serta melakukan penyemprotan pestisida. Pengendalian hayati dan sanitasi kebun menjadi kunci sukses budidaya kopi di lahan sawit," pungkas Puan.

Sesi pertama selesai, kegiatan dilanjutkan pada sesi kedua setelah sholat Zuhur yang menghadirkan dua narasumber. 

Membuka sesi kedua, Joni Irawan, S.P., M.Si, dosen Fakultas Pertanian Universitas Riau, menekankan aspek teknis pemeliharaan dan pascapanen. Ia menilai bahwa keberhasilan tumpang sari tidak hanya ditentukan oleh keberanian menanam, tetapi juga oleh ketelitian dalam perawatan.

“Sekarang ini kita mencoba mengintegrasikan tanaman kopi dengan kelapa sawit. Untuk itu, pemupukan harus dilakukan seimbang, kombinasi pupuk organik dan kimia penting agar tanaman berproduksi maksimal,” ujarnya. 

Khusus untuk lahan gambut, jenis Kopi Liberika sangat cocok ditanam. Mengapa harus di tanam di kebun sawit? Karena tanaman kopi butuh naungan agar bisa tumbuh dengan baik.

Bagaimana pula perawatannya, apakah tidak mengganggu tumbuhan sawit yang sudah ada? Joni menerangkan, semua bisa diatasi dengan teknis penanaman. 

"Caranya dengan membuat jarak tanam. Dimana masing-masing gawangan sawit cukup ditanam satu pohon kopi saja. Ini akan mempermudah petani dalam hal perawatan," ungkapnya.

Selain itu, pemangkasan cabang tua, pembuangan ranting terserang penyakit, serta pengaturan sirkulasi cahaya menjadi langkah penting menjaga vitalitas tanaman.

“Tanaman kopi mulai berbuah pada umur 2,5 hingga 3 tahun. Dengan pemeliharaan baik, umur 3,5 tahun sudah bisa panen perdana,” jelasnya. Pendekatan teknis ini, tambah Joni, harus disosialisasikan secara berkelanjutan agar petani tidak hanya menanam, tapi juga mampu menjaga kualitas hasilnya.

Disesi terakhir, Hisam Setiawan, tampil menyampaikan peluang petani dalam mendapatkan 'cuan' dari hasil Kopi. Pendiri Yayasan Gambut ini menutup sesi dengan menekankan dimensi sosial dan ekonomi: tata niaga berbasis kelompok masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan agroforestry tidak akan berarti banyak tanpa sistem tata niaga yang adil. “Selama ini petani sering dikendalikan tengkulak. Padahal mereka bisa mengelola sendiri hasilnya lewat koperasi. Bapak dan ibu tak perlu kuatir soal pemaq1saran kopi ini. Kami siap membantu petani dalam hal ini," ujar Hisam.

Sebab, kata Hisam, tata niaga berbasis masyarakat mencakup seluruh rantai nilai (dari penanaman, panen, pengolahan, hingga pemasaran) yang dikendalikan langsung oleh petani. “Dengan model ini, mereka bisa menentukan harga, menjaga kualitas, dan membangun kemandirian ekonomi desa,” ujarnya.

Hisam juga optimistis bahwa permintaan kopi liberika yang terus meningkat menjadi peluang besar bagi petani di Riau. “Kopi bukan hanya tanaman tambahan di kebun sawit, tapi simbol perubahan, dari ketergantungan menuju kemandirian,” pungkasnya.

Workshop hari pertama ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat peserta dan narasumber, dilanjutkan dengan foto bersama.(*)




Untuk saran dan pemberian informasi kepada berazam.com, silakan kontak ke email: [email protected]


Komentar Anda
Berita Terkait
 
 


Copyright © 2021 berazam.com - All Rights Reserved
Scroll to top